Rabu, 30 Januari 2013

Fase lesb*an dan obsesif kompulsif



Pernah berusaha untuk keluar dari jalur L, atau pernah berhasil menepi dari jalur L tapi ujung ujungnya tetap meneruskan perjalanan di jalur L, atau pernah berhasil menempuh jalur S(traight), tapi gara gara kesepian dan kondisi lainnya, akhirnya berbelok lagi ke jalur L. Berbagai macam keadaan yang menyebabkan seseorang terus berputar putar di jalan yang sama, bahkan ada pula yang bergerak mundur ke belakang. Menurut saya, ini adalah jalan yang tiada berujung, tak pernah ada akhirnya. Mana tahu kita, akhir cerita film cinta kita sama pacar, sampai berapa episode, endingnya kayak gimana, hanya genre film kita saja yang bisa kita tahu, drama, komedi romantis atau action bahkan thriller, tergantung kita sendiri dan pacar maunya yang mana. Satu satunya jalan yang pasti yaitu jalan pulang kerumah kita yang sebenarnya (ke kampung akhirat).

Kebanyakan orang memaksakan kehendaknya pada pasangannya, padahal gak menyadari bahwa ada dua orang pengemudi dalam satu mobil yang dalam perjalanan menuju rumah impian masing masing, gw menyebut dua pengemudi dan bukan satu pengemudi, satu sebagai penumpang, karna ini adalah perjalanan dua orang perempuan dengan destinasi yang tiada ujungnya, semua rencana awal yang dibangun berlandas cinta dan harapan, mau kemana tujuan akhir, semua itu cepat atau lambat akan terhenti karena terdapat dua pengendara dalam satu mobil, siapapun bisa tergoda untuk berhenti atau jenuh terus menyetir tanpa tujuan akhir. Tidak semua pengendara memiliki tujuan dan pandangan yang sama, mungkin hanya segelintir saja, yang menerapkan satu pengendara dan satu penumpang yang memiliki impian dan tujuan akhir yang sama.  

Perjalanan kita malah terpatok oleh paradigma tentang bagaimana pendapat orang lain melihat diri kita, seolah-olah keadaanlah yang mengatur hidup kita, keadaan yang memaksa, seperti disetir oleh keadaan, hidup dalam menanggapi pemikiran pemikiran orang, pendapat orang, kenapa gak hidup aja dengan tenang tanpa memikirkan apa yang orang pikirkan tentang kita, padahal orang lain juga sibuk memikirkan apa yang akan orang lain pikirkan terhadap dirinya, seperti lingkaran terselubung yang tak terputus. Hidup menjadi lebih optimis dan lebih baik jika kita selalu bergantung pada TUHAN , bukan pada keadaan.

Intinya jangan menyia-nyiakan kesempatan yang Allah sudah berikan, waktu yang di beri saat ini adalah anugrah besar untuk kita pergunakan dengan sebaiknya, bukan menyesali yang telah terjadi, bukan merutuki ketidakberuntungan, hari ini adalah hari lo buat berusaha,  berkarya, wujudkan impian lo, hari ini adalah hadiah, soal hasilnya itu kan tergantung sebesar apa usaha lo dan itu adalah kuasaNYA. 

Kenapa selera dan cinta kadang berjalan berdampingan, namun kadang berjalan berlawanan arah?, apa yang sudah dibuat (dibutakan) cinta sehingga membuang soal selera atau tipe tertentu seseorang di mata sang pencinta. Mengapa cinta itu erat hubungannya dengan sifat, sikap, obsesif dan kompulsif, mengapa ada keinginan, dorongan untuk  mendapatkannya, dan ingin bersamanya, mengapa perlu perjuangan. Jawabannya karna cinta itu menghapus pertanyaan apa untungnya bagi sang pencinta, cinta justru membuat rela berkorban untuknya. Contohnya selera orang berbeda beda, ada yang meninggalkan kekasihnya yang cantik dan memilih seorang yang lebih humoris, karna apa yang dicari hati itu kenyamanan dari pada fisik semata, so don’t worry.. cinta kan membawamu kembali disini, menuai rindu, membasuh perih (karoke lebay) kalo emang jodohnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar