Sabtu, 26 Januari 2013

Menculikmu dari imajinasi


Menculikmu dari imajinasi


Berbatasan dengan realita, kau berada ditepi garis, dengan sengaja kosodorkan tanganku, ingin berkenalan denganmu, kau hanya mengangkat keningmu, menatapku aneh.. ‘kau mempermalukanku didepan malu ku, tadi rasa malu ku sudah memperingatkanku untuk tidak mengikuti anjuran keberanianku, tapi aku mengacuhkannya, sekarang malu ku tertawa puas mengejekku.

Tak apalah aku rela kau mempermalukanku kemarin.. hari ini kau masih disana, akan kucoba lagi berusaha.. hari ini hujan tak ingin mereda, merendam pikiranku, masih normalkah pikiranku yang terus berusaha walau kau tetap mengacuhkanku..

Heyyy.. wanita yang diseberang garis, kau tahu, aku belum mau menyerah, pikiranku masih normal selama kau masih mengacuhkanku. Ekspresimu membuatku penasaran, dan aku mencintaimu karna kita berdua sama, sama-sama menjadi anak yang kesepian, yang beranjak tidur dengan memikirkan hal hal membanggakan apa yang harus dilakukan agar mereka memperhatikan, setidaknya melirik, dan menjadi dewasa saat anak-anak lain masih didongengkan oleh orangtua. 

Saat kau menatap anak lain yang sedang dielus rambutnya oleh sang orangtua, ekspresimu terlihat seperti membenci, kudekati kau dan kukatakan, ada ibu malaikat disampingmu, hanya saja kau tak dapat melihatnya, kalau kau mau, berkhayalah ibu malaikat itu sedang mengelus rambutmu dan mengetahui semua isi hatimu, kau bisa mengandalkannya, karena akupun begitu.

Sejak saat itu, kau aku menjadi kita yang tak pernah terpisah, aku cuek, kaupun begitu, tapi kau selalu peduli padaku, walau kau jarang bicara, namun nampak matamu berbicara. kita berdua ditakdirkan untuk bersatu, bersamamu aku baru merasakan hangatnya rasa kasih. Jadi begini rasanya bila seseorang peduli padaku. sudah itu saja, aku hanya ingin kau saja.
Kau tahu, kau satu satunya orang yang pernah menenangkanku saat aku gelisah dan menghiburku saat aku sedih, hanya kau saja.

Itu dia, senyuman itu yang selalu aku suka darimu, juara deh buat aku lumer,  yang selalu aku tunggu, tak apa bagiku kau jarang senyum, tapi aku tak akan bosan menasehatimu untuk lebih sering senyum..

Sejak 7 tahun yang lalu, aku menculikmu dari imajinasimu, sejak kau menyodorkan tanganmu, dan aku menarikmu dari batas imajinasi kita, memutuskan hidup dalam nyata, karna aku memilikimu, begitupun kau. Aku berusaha menggantikan sosok ibu malaikatmu, karna aku sangat mencintaimu. Tempatmu di hatiku sangat besar, rasanya tidak muat lagi untuk orang lain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar