Menculikmu dari imajinasi
Berbatasan dengan realita, kau berada ditepi
garis, dengan sengaja kosodorkan tanganku, ingin berkenalan denganmu, kau hanya
mengangkat keningmu, menatapku aneh.. ‘kau mempermalukanku didepan malu ku,
tadi rasa malu ku sudah memperingatkanku untuk tidak mengikuti anjuran
keberanianku, tapi aku mengacuhkannya, sekarang malu ku tertawa puas
mengejekku.
Tak apalah aku rela kau mempermalukanku kemarin..
hari ini kau masih disana, akan kucoba lagi berusaha.. hari ini hujan tak ingin
mereda, merendam pikiranku, masih normalkah pikiranku yang terus berusaha walau
kau tetap mengacuhkanku..
Heyyy.. wanita yang diseberang garis, kau tahu,
aku belum mau menyerah, pikiranku masih normal selama kau masih mengacuhkanku.
Ekspresimu membuatku penasaran, dan aku mencintaimu karna kita berdua sama,
sama-sama menjadi anak yang kesepian, yang beranjak tidur dengan memikirkan hal
hal membanggakan apa yang harus dilakukan agar mereka memperhatikan, setidaknya
melirik, dan menjadi dewasa saat anak-anak lain masih didongengkan oleh
orangtua.
Saat kau menatap anak lain yang sedang dielus
rambutnya oleh sang orangtua, ekspresimu terlihat seperti membenci, kudekati
kau dan kukatakan, ada ibu malaikat disampingmu, hanya saja kau tak dapat
melihatnya, kalau kau mau, berkhayalah ibu malaikat itu sedang mengelus
rambutmu dan mengetahui semua isi hatimu, kau bisa mengandalkannya, karena
akupun begitu.
Sejak saat itu, kau aku menjadi kita yang tak
pernah terpisah, aku cuek, kaupun begitu, tapi kau selalu peduli padaku, walau
kau jarang bicara, namun nampak matamu berbicara. kita berdua ditakdirkan untuk
bersatu, bersamamu aku baru merasakan hangatnya rasa kasih. Jadi begini rasanya
bila seseorang peduli padaku. sudah itu saja, aku hanya ingin kau saja.
Kau tahu, kau satu satunya orang yang pernah
menenangkanku saat aku gelisah dan menghiburku saat aku sedih, hanya kau saja.
Itu dia, senyuman itu yang selalu aku suka darimu,
juara deh buat aku lumer, yang selalu
aku tunggu, tak apa bagiku kau jarang senyum, tapi aku tak akan bosan
menasehatimu untuk lebih sering senyum..
Sejak 7 tahun yang lalu, aku menculikmu dari
imajinasimu, sejak kau menyodorkan tanganmu, dan aku menarikmu dari batas
imajinasi kita, memutuskan hidup dalam nyata, karna aku memilikimu, begitupun kau.
Aku berusaha menggantikan sosok ibu malaikatmu, karna aku sangat mencintaimu. Tempatmu
di hatiku sangat besar, rasanya tidak muat lagi untuk orang lain.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar